Ramai di dunia maya tentang disparitas antara orang punya (orang have ) dan orang haven't. Perbandingan situasi hidup yang tak pernah ada habisnya, memasukkan sebuah situasi dalam kotak tertentu. Aku ingin berbagi cerita tentang kotak kemewahan yang kini aku miliki dan aku impikan dulu. Ini tentang rumah, bukan tentang rumah yang memiliki eksalator atau lift di dalamnya. Bukan juga bath up dengan wewangian bunga-bunga yang langka itu. Ini tentang BAB. Suatu hari, Ina (seseorang yang kurindukan) teman SMP ku berkunjung ke rumahku dengan niat mengejarkan tugas bersama dan katanya ingin tahu juga rumahku di mana. Dalam kunjungannya, sehabis dari kamar mandi, ia bertanya, "Kamu kalau BAB gimana?" aku jawab "Ada, di tempat lain". Bila memakai standar orang have dan orang haven't, dari percakapanku dengan Ina aku adalah orang haven't. Selama belasan tahun aku terikat dengan jadwal buang air besar (BAB) setiap malamnya. Dengan jadwal mengaji setelah magrib da...
I can't save us Raungku kala malam hari Tadi, esok, dan mungkin juga lusa Tatkala yang kulihat hanya mereka Jejeran angkot antar kota yang supirnya tengah berdoa Tak hanya di Darmaga semata Menunggu penumpang katanya Kuketuk satu persatu pintu tetanggaku Puluhan ribu uang dipegangnya, Tak banyak, Tak ada juga yang berwarna merah "Mengapa tak pergi?", tanyaku. "Inginnya pergi, tapi tak ada ongkos", singkatnya. Kulihat karung beras ibuku, Dua tiga liter mungkin ada, Tenang, bapak masih berusaha! Is it any wonder things get dark?