Ramai di dunia maya tentang disparitas antara orang punya (orang have) dan orang haven't. Perbandingan situasi hidup yang tak pernah ada habisnya, memasukkan sebuah situasi dalam kotak tertentu.
Aku ingin berbagi cerita tentang kotak kemewahan yang kini aku miliki dan aku impikan dulu. Ini tentang rumah, bukan tentang rumah yang memiliki eksalator atau lift di dalamnya. Bukan juga bath up dengan wewangian bunga-bunga yang langka itu. Ini tentang BAB.
Suatu hari, Ina (seseorang yang kurindukan) teman SMP ku berkunjung ke rumahku dengan niat mengejarkan tugas bersama dan katanya ingin tahu juga rumahku di mana. Dalam kunjungannya, sehabis dari kamar mandi, ia bertanya, "Kamu kalau BAB gimana?" aku jawab "Ada, di tempat lain".
Bila memakai standar orang have dan orang haven't, dari percakapanku dengan Ina aku adalah orang haven't.
Selama belasan tahun aku terikat dengan jadwal buang air besar (BAB) setiap malamnya. Dengan jadwal mengaji setelah magrib dan usai di jam sebelum azan isya berkumandang. Bapak dan aku akan pergi bersama berjalan kaki sepanjang 200 meter dari rumah, melewati gang-gang, jalanan aspal dan memasuki area persawahan untuk sekadar jongkok dan melakukan ritual manusiawi itu. Bapak akan setia menunggu selama kurang lebih 10 hingga 15 menit sampai aku selesai. Kadangkala bisa lebih apabila aku kurang asupan sayuran harian.
Aku buka celanaku dan jongkoklah aku di sela-sela tembok yang dibuat keluarga pemilik bak air yang dibuat sebagai penampungan air dari batu di belakang rumah ibu Iyam dengan lebar 4 meter dan panjang 5 meter, membentang menampung air dari saluran yang mengalir sepanjang kampung itu. Dengan pemandangan sawah dan kunang-kunang yang menari di atas kepalaku, sesekali disengat nyamuk di pantat dan bagian tubuh lain, aku lakukan proses buang hajat itu. Ritual wajibku.
Jamban, iya jamban, warna biru atau putih itu adalah impian termewahku yang ingin kupunyai. Setiap hari terbayang bisa buang air sebebasnya di rumah tanpa harus ditemani Bapak, dan bisa sambil berkhayal dan mencari inspirasi seperti orang-orang.
Tapi mimpi itu butuh belasan tahun untuk terwujud. Dari kurang lebih 70 kartu keluarga yang menghuni RT 01 atau tempat yang aku tinggali, aku bisa menghitung dengan jari kaki dan tanganku berapa banyak jamban yang ada di rukun tetangga ini. Terbayang tidak kalau jadi seorang mikrobiologis, berapa juta bakteri yang ada di siklus berbagi yang berantai itu. OW.
Menjijikan rasanya apabila aku ingat. Tetapi kolam ibu Iyam itu adalah sumber air bagi kami, kami melakukan banyak aktivitas di sana, dengan air penampungan yang apabila ditilik air itu sudah dipergunakan berkali-kali sepanjang lima RT di kampungku.
Gini, sumber air mengalir dari hulu ke hilir, hulunya adalah RT 5, sedangkan aku dan keluarga bertempat di RT 1. Sudah terbayang bagaimana keruhnya air yang dipergunakan berulang kali untuk berbagai aktivitas dan kami pakai lagi untuk aktivitas yang sama?
Iya, kubilang menjijikan. Tenang, airnya tidak kami minum, hanya kami pakai mencuci pakaian, mencuci sandal, membilas badan alias mandi dan pantat bekas buang air besar.
Aku menunggu selama 10 tahun hingga di tahun 2013, Bapak dan Ibuku akhirnya merasa cukup mampu untuk bayar orang untuk pasang jamban di rumah kami yang baru rampung itu. Jamban biru yang dipilih Bapak kini menjadi harta yang kadang aku lupa syukuri, seberapa inginnya aku punya itu, seberapa inginnya aku BAB di kamar mandirku sendiri tanpa harus ditemani Bapak, dan malu apabila ketahuan orang karena aku bottomless.
Air itu juga kini sudah menjadi hal yang kami miliki, air yang bersih (kurang tau mungkin sekarang sudah terkontaminasi mikroplastik) padahal aku sadar sepertinya tubuhku sudah kebal akan bakteri jahat atau mungkin sistem imunnya sudah rusak karena terlalu banyak bakteri? Biarlah menjadi pertanyaan yang tak terjawab.
Ditulis di bulan Agustus, 2026.
Setelah berulang kali diinjak lagi oleh sistem itu.
Comments
Post a Comment