Skip to main content

Winter Song



                                                                                 Istanbul, 2022


Look at the window
Shadows appear
Try not to look forward
Doesn't feel real

Sudah tiga minggu kunikmati cuaca dingin-panas-dingin dari musim panas yang sebentar lagi berakhir, hujan turun kala aku menulis ini, kunikmati pergantian suhu sambil kuingat-ingat lantunan lagu Winter Song milik Isyana Sarasvati yang tiba-tiba diputar saat ku menarik tuas mesin pemotong roti otomatis di supermarket tadi pagi, yang kuputas sesaimpainya aku di rumah setelah lima menit mengayuh bakfiets dengan kecepatan rendah karena ada telur di kantong belanja yang kubawa.

Lagu itu juga berhasil membawa ingatanku akan gelapnya musim dingin yang campur aduk, yang membuatku bertanya-tanya, siapkah aku menikmati musim dingin yang akan datang dalam kurun waktu kurang dari tiga bulan ke depan di rumah baru ini? atau akan kurasakan di tempat lain kah? Ku tak tahu.




Comments

Popular posts from this blog

Aku Mau Kembali

Dua bulan yang lalu, aku lupa tepatnya setelah melakukan aktivitas apa, yang pasti sore itu, aku menghabiskan jam-jam yang tersisa dengan menyusuri toko buku di sebuah mall di kota Bogor.  Setiap lorong aku datangi, kulihat beberapa buku-buku Best Seller yang ditampilkan rapi di rak yang dari semua juru bisa terlihat. Aku sentil temanku dan ku beritahu dia bahwa dua dari buku yang terterta itu sudah aku baca beberapa tahun lalu dan aku heran kok masih ada di sana aja, tanyaku. Selama kurang lebih 50 menit aku berkeliling, aku putuskan untuk tidak membeli buku baru sebagai penebusan rasa bersalah karena di rumah saja sudah numpuk belum dibaca, tiga pensil  Toko buku adalah tempat mewah, bagiku. Heh kenapa? sampai usiaku 14tahun, aku hanya pernah memberi 4 buku di Gramedia, satu Atlas, dua buku Ujian Nasional dan satu buku Mahir Bahasa Inggris (yang ini aku salah pilih, nggak ngerti aku dulu isinya apa), sisanya aku dapat koran pengasihan dan buku-buku lungsuran dari sepupuku ya...

Doesn't need a title.

Ramai di dunia maya tentang disparitas antara orang punya (orang have ) dan orang haven't. Perbandingan situasi hidup yang tak pernah ada habisnya, memasukkan sebuah situasi dalam kotak tertentu.  Aku ingin berbagi cerita tentang kotak kemewahan yang kini aku miliki dan aku impikan dulu. Ini tentang rumah, bukan tentang rumah yang memiliki eksalator atau lift di dalamnya. Bukan juga bath up dengan wewangian bunga-bunga yang langka itu. Ini tentang BAB. Suatu hari, Ina (seseorang yang kurindukan) teman SMP ku berkunjung ke rumahku dengan niat mengejarkan tugas bersama dan katanya ingin tahu juga rumahku di mana. Dalam kunjungannya, sehabis dari kamar mandi, ia bertanya, "Kamu kalau BAB gimana?" aku jawab "Ada, di tempat lain".  Bila memakai standar orang have dan orang haven't, dari percakapanku dengan Ina aku adalah orang haven't. Selama belasan tahun aku terikat dengan jadwal buang air besar (BAB) setiap malamnya. Dengan jadwal mengaji setelah magrib da...

Sudah jadi sarjana, lalu apa?

Ik krijg zo vaak de vraag "En? En? Wat wil je worden?" Dan krijg ik 't benauwd Is dat nu al aan de orde? Apa kabar?  Semoga selalu dalam keadaan baik, sentosa, dan bahagia.  Sebagai pembuka, saya ingin memindahkan apa-apa saja yang kerap menjadi pemantik pikiran berlebihan di pikiran ini pun ingin bertanya bahwa apakah teman-teman juga merasakan bulan suci Ramadan berlalu dengan amat cepat? Setiap hari berlalu bersama hembusan angin, tak terasa kini sudah memasuki malam kedua puluh. Saya doakan semoga saya dan semuanya dapat berjumpa dan menjalani Ramadan di tahun-tahun selanjutnya dan ketakwaan diri senantiasa melekat dan kian bertambah. Aamiin. Ada beberapa hal yang ingin saya tulis dan lepaskan di blog ini, melalui tulisan-tulisan yang kian hari saya lupa mau menulis apa di tengah ramainya hal-hal yang terjadi belakangan ini. Dari #KaburAjaDulu, demonstrasi, dan lain-lain yang tepat satu tahun sudah menjadi gelisah dan takut saya.  Sesuai judul yang saya tulis, di bula...